Datu Museng dan Maipa Deapati (Romeo & Juliet Versi Makassar)

KISAH YG TERLUPAKAN DARI DATU MUSENG & MAIPA DEAPATI

Romeo & Julietnya Makassar

Datu Museng dan Maipa Deapati
Datu Museng dan Maipa Deapati (Dok. MTK)
Kisah CINTA nan mengharukan antara Datu Museng dan Maipa Deapati ini berangkat dari cerita rakyat yang sangat populer dikalangan masyarakat Makassar, yang dituturkan oleh orang-orang tua kepada anak cucu mereka, agar mereka dapat memetik hikmah dari pendidikan, perjuangan dan kesetiaan. 

Begitu hebatnya cerita antara Datu Museng Putra Karaeng Gassing Bangsawan Kerajaan Gowa dan Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa ini tertanam di dalam benak orang-orang makassar, sehingga kemudian nama dari kedua tokoh legendaris ini pantas untuk diabadikan sebagai nama jalan di Kota Makassar, Nama jalan itu seakan sengaja dibuat berdampingan saling berdekatan seakan-akan Pemerintah Kota Makassar turut merestui hubungan percintaan abadi mereka berdua.

Pada ujung barat jalan Datu Museng, terdapat situs makam dengan dua nisan kayu yang bersanding kukuh, yang konon katanya itulah makam kedua pasangan cinta ini dimakamkam, Datu Museng dan kekasihnya Maipa Deapati.

Kisah percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati ini berawal ketika Ade Arangan kakek dari Datu Museng melarikan diri bersama cucunya menyebarangi lautan nan luas menuju ke negeri sumbawa, akibat dari politik adu domba yang dilancarkan penjajah belanda di tanah Gowa, yang Mengakibatkan terBunuhnya Kedua orang Tua Datu Museng Yaitu Ayahanda Karaeng Gassing (Salah satu Anak dri Ade Arangan) dr KeRajaan Gowa dan Ibunya dri Putri Bangsawan Galesong..membuat bumi Gowa bergejolak dan tidak kondusif lagi untuk dijadikan tempat tinggal yang aman.

Di Pulau sumbawa itulah akhirnya Datu Museng tumbuh menjadi seorang yang dewasa dan bertemu dengan Maipa Deapati di Pondok Pengajian Mampewa. Akhirnya tumbuh benih cinta dihati Datu Museng sejak pertama kali melihat sosok Maipa Deapati yang anggun dan mempesona. Namun cinta dari Datu Museng kepada Maipa Deapati menjadi sebuah cinta yang terlarang karena Maipa Deapati telah ditunangkan dengan seorang pangeran Kesultanan Sumbawa, Pangeran Mangalasa.

Setelah kakek Datu Museng mengetahui bahwa cucunya mencintai Maipa Deapati, alangkah terkejutnya sang kakek. Sang kakek dari Datu Museng merasa malu karena merasa bahwa mereka hanyalah sebongkah emas yang telah terkotori oleh lumpur, sedangkan Maipa Deapati adalah Putri Kerajaan Sumbawa.

Datu Museng dan Maipa Deapati
Datu Museng dan Maipa Deapati (Dok. MTK)
Datu Museng mengetahui bahwa cintanya kepada Maipa Deapati terhalang oleh tembok yang kokoh, maka atas anjuran sang kakek, berangkatlah Datu Museng ke tanah Mekkah untuk berguru. Disanalah ia mendapatkan ilmu "Bunga Ejana Madina". Kepergian Datu Museng ke tanah Mekah ternyata bukannya membuat kedua insan yang saling mencinta ini menjadi terpisah, melainkan perpisahan itu malah semakin membuat ikatan hati antara keduanya semakin kuat.

Selepas mendapatkan ilmu di tanah rantau Mekkah, maka Datu Museng pulang kembali ke Sumbawa dengan membawa rindu yang sangat besar kepada Maipa Deapati. Sesampainya di Sumbawa ternyata sang kekasih yang dirindukan jatuh sakit, maka Datu Musengpun menolong Maipa Deapati dengan ilmu yang didapatkannya dari tanah Mekkah.

Mendengar kabar bahwa sang tunangan Maipa Deapati mencintai Datu Museng, membuat perasaan cemburu di hati Pangeran Mangalasa bergejolak, Pangeran Mangalasa lantas bersekutu dengan Belanda dengan tujuan untuk membunuh Datu Museng. Tetapi Datu Museng yang teramat sakti itu tak dapat dikalahkan oleh Pangeran Mangalasa dan Belanda. 
Dan Pangeran Mangalasa serta sekutu belanda yg membantunya akhirnya Kalah oleh Datu Museng yg di bantu Kakeknya Ade Ngareng

Sultan Sumbawa pun Kecewa dengan Pangeran Mangalasa yg Kalah hanya melawan dua org saja yaitu Datu Museng dgn Kakeknya Adearangan..Bgmna bisa melindungi Putrinya Kelak serta Rakyatnya

Akhirnya Datu Museng mendapat restu dari Sultan Sumbawa krna Kesaktiannya, merekapun lantas dinikahkan dan Datu Museng diberikan pangkat sebagai Pangllima perang. Belum beberapa lama menikah, berhembus kabar bahwa di Makassar tengah bergejolak kekacauan yang disebabkan oleh pemerintah Belanda yang berkuasa ditanah Makassar. Sultan Lombok lantas meminta Datu Museng ke Makassar untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Maka berangkatlah Datu Museng dan istrinya Maipa Deapati ke tanah Makassar, setibanya di Makassar, Datu Museng mendapatkan tantangan lain karena Kapten dari Belanda itu justru mencintai Maipa Daepati, dan Belanda Menyewa para pendekar2 Makassar yg tangguh utk membatu Melawan Datu Museng yg terkenal Sangat SAKTI, Belanda dan para Penghianat melancarkan berbagai macam serangan kepada Datu Museng untuk merebut Maipa Deapati dari Datu Museng, tetapi Serangan belanda dan para Penghianat selalu Gagal karna Keperkasaan sang Datu Museng. Hnggah akhirnya Belanda Menambah pasukannya serta meminta Bantuan para Joara Pendekar Makassar utk membantu melawan Datu Museng Akibatnya Datu Musengpun terdesak akibat serangan Belanda tersebut. Namun bagi Maipa Deapati cintanya ke Datu Museng adalah harga mati baginya, ia tidak mengijinkan seorang pun untuk mengambilnya dari Datu Museng.

Datu Museng dan Istrinya Maipa beserta beberapa org Pengawalnya Akhirnya Terkepung oleh Belanda dan Para Penghianat yg membantu Belanda.
Datu Museng sedikitpun tidak Gentar utk melawan, Datu Museng yakin bisa mengalahkan semua Pasukan serta para penghianat yg bergabung dgn Belanda..
Cuma yg jadi keKuatiran Datu Museng adalah Istrinya Maipa, yg tdk mungkin ia bsa selalu Melindungi istrinya selama Pertempuran, bisa saja Datu Melawan tpi istrinya pasti di Sandera dan jatuh ke Pelukan Capiten Belanda.
Dan Maipa Deapati pun yakin Bahwa Suaminya bisa mengalahkan semua Pasukan beserta para penghianat yg membantu Belanda, tetapi Maipa sadar krna Banyaknya pasukan belanda, Maipa takut klau belanda Menculik dirinya pda saat Suaminya Bertempur, dan Maipa tidak Mau jatuh dlm Pelukan Penjajah Belanda serta Tidak mau Menodai Cinta Sucinya kepada Suaminya

Hingga akhirnya Sang kekasih Maipa Deapati lantas meminta kepada Datu Museng untuk membunuhnya, sebab cintanya kepada Datu Museng hanya untuk Datu Museng seorang, ia merasa lebih baik mati di tangan orang yg ia cintai daripada harus menyerahkan dirinya kepada Penjajah Belanda.

“Datu ku, jangan ragukan ketulusan Maipamu. Aku rela pergi mendahuluimu, merintis jalan menuju tempat yang telah ditentukan oleh Maha Pencipta. Junjunganku Datu, aku rela mati di tanganmu. Tuhan jadi saksi, bahwa kuharamkan kulitku ini disentuh Balandaya (Belanda).“ – Dariku Maipa Deapati

Dengan sangat berat hati Datu Museng lantas mengabulkan permintaan sang istri

Datu Museng pun Ber JANJI kepada Istrinya 
Sebelum permintaan itu dikabulkan, Datu Museng sempat berpesan. “Kalau adinda sudah jalan duluan menghadap ILahi, kalau saya tak menyusul di waktu Duhur, tunggu di waktu ashar, tapi kalau tak ada di waktu Ashar, pasti saya datang menemuiamu di waktu Magrib sebelum Matahari TerBenam”. Sertelah itu Datu kemudian melaksanakan permintaan istrinya dengan menusuk leher sang Kekasih terCinta Maipa dgn badik Pusakanya hingga menemui ajalnya. Setelah itu, mayat Maipa dibaringkan di ruang tengah seperti Layaknya org lgi tidur.

Setelah itu, Datu Museng pun Kluar Melawan Pasukan yg Mengepungnya
Dan Membunuh satu persatu Pasukan serta para Penghianat yg membantu Belanda utk melawan Dirinya

Disaat memasuki waktu Duhur, Datu Museng masih sangar melawan, demikian juga di waktu Ashar Datu Museng pun balum terkalahkan bahkan Dia seperti Harimau yg Kelaparan membantai para Penjajah Belanda serta para Penghianat, tetapi ketika memasuki waktu Magrib Datu Museng terSadar dengan JANJI nya kpada Istrinya terCinta, walau Datu Museng yakin masih bisa melawan dan membunuh semua pasukan serta sekutu, tetapi JANJI nya pada istrinya Maipa Deapati sudah sampai dan ia segera menyusul saat Magrib sebelum Matahari terbenam dan dia tidak bisa mengingkari JANJInya pada Sang Istri terCinta. Apa lagi ia sudah melihat bayangan Maipa di ufuk barat sudah melambai-lambai

karena rasa cinta yang dalam kepada istrinya Maipa Deapati, Datu Musengpun lalu melepaskan semua ilmu ilmu Kesaktian yang dimilikinya termasuk Bunga Ejana Madina, dan membiarkan dirinya dibunuh dengan muda oleh penjajah Belanda tanpa ada perlawanan lagi. Kisah inilah yang terus dikenang oleh masyarakat makassar, kisah percintaan Romeo And Juliet Versi Makassar,,,, ( MTK Group )

Unique Facts About The Betawi People

There are about three hundreds different ethnic groups in Indonesia that spread across the archipelago. Each of these ethnic groups has distinct and unique characteristics that make them different from one another. Each city in Indonesia has its own indigenous ethnic, including Jakarta. The Betawi people and its culture have been made famous by the hit TV series “Si Doel Anak Betawi” in the nineties. This week, Burufly would reveal the uniqueness that Betawi has, so you can learn more about their culture.

Language

Generally, Betawi language is based on Indonesian language. However, what make their language unique is the dialects. There are two different dialects in Betawi language; one is Betawi Tengah, which uses the letter “E” on their pronunciation and Betawi Pinggir, which uses the letter “A”. For example, the word “kenapa” will be pronounce “kenape” by Betawi Tengah and Betawi pinggir will pronounce it the same.

betawi
Music

You can feel the influence of Chinese and Arab in Betawi music, such as Gambang Kromong and Rebana that are quite distinct. Their music is quite well known, such as Keroncong Tugu, Lenong, Tanjidor, and their famous traditional song “Kicir-Kicir”.

Dance and Drama Culture

In addition to variety of musical art, Betawi also has dance and drama as its hallmark. There are several kind of Betawi dance, namely Topeng Betawi and Yapong that influenced by Jaipong of West Java. The distinctive feature of Tari Betawi lays in its dynamic movement and a cheerful expression that makes people excited to watch. Not much different from its dance culture, their drama culture also brings a lot of excitement, such as Lenong Tonil, depicting the everyday life brought with a typical Betawi humor and verses with their unique dialect making it one of Indonesia’s favorite play.

Folklore

Each ethnic in Indonesia has its own folklore, and that include Betawi. One of the most famous Betawi folklore is “Si Pitung”, a story of one hero who bravely fights the Dutch colonial rule. Betawi folklore is characterized by its tough life and bravery.

Characters and Norms

The majority of Betawi people are Muslim. As they are the descendent of both local and Portuguese, Betawi people are highly social and strongly hold their religious and cultural, values and they has a high tolerance towards other ethnic groups. They have managed to maintain their culture and proud of it. / 



Source : Valadoo

Pontianak, dari Telur Berdiri hingga Gangguan Kuntilanak

Kota Pontianak (坤甸 ; Pinyin: Kūndiàn) adalah ibukota provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini dikenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis khatulistiwa. Selain itu, Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak. Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang membelah kota disimbolkan di dalam logo Kota Pontianak. Kota ini memiliki luas wilayah 107,82 kilometer persegi.

Nama Pontianak yang berasal dari bahasa Melayu ini dipercaya ada kaitannya dengan kisah Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika dia menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting.

pontianak
Panas Itulah kata pertama yang tepat untuk menggambarkan kota Pontianak, Kalimantan Barat. Bukan seperti panas kota Jakarta, bukan juga seperti Surabaya.

Hanya di Pontianak, tepatnya di Tugu Khatulistiwa, momen Kulminasi Atas Matahari terjadi. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga seolah-olah menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi.

Menurut Staf Pengajar Prodi Astronomi dan Staf Peneliti di Observatorium Bosscha, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, fenomena terbit dan terbenam matahari bagi penduduk Bumi disaksikan di titik yang selalu tepat di arah titik timur atau di titik barat.

"Hanya pada momen tertentu saja matahari terbit tepat di arah titik timur dan terbenam di arah titik barat. Momen itu adalah momen matahari di arah ekuinok, yaitu dua titik potong ekliptika dan ekuator langit," ujar Moedji, di Pontianak, Kamis (19/3/2015).

Pada momen ini, pembagian waktu di berbagai belahan bumi terbagi rata sekitar 12 jam. Di tahun ini, momen matahari di ekuinok terjadi dua kali yaitu 21 Maret 2015 dan 23 September 2015.

Wisata Sungai Kapuas

Pada momen matahari di ekuinok, berbagai kegiatan dilakukan di sekitar Tugu Khatulistiwa untuk mengundang pengunjung atau wisatawan datang ke sana.

Contohnya, wisata menggunakan kapal menyusuri Sungai Kapuas dan melewati Jembatan Kapuas. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada malam hari ditemani dengan gemerlap lampu-lampu di Jembatan Kapuas.

Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang mencapai 1.143 kilometer. Sungai ini menjadi kehidupan masyarakat sekitar. Para penduduk biasa mencari ikan di Sungai Kapuas. Para ibu rumah tangga memanfaatkan sungai untuk mencuci pakaian mereka, sementara anak-anak terlihat bermain-main menggunakan sekoci kecil di tepi sungai.

Para wisatawan bisa menyusuri Sungai Kapuas menggunakan kapal yang disediakan. Kapal ini bisa mengangkut sekitar 30 orang sekali berlayar. Rutenya berangkat dari Taman Alun Kapuas. Wisatawan hanya perlu menyiapkan biaya Rp 10.000 hingga Rp 15.000.

Tugu Khatulistiwa

Penyusuran Sungai Kapuas terhenti di Tugu Khatulistiwa. Tugu ini sendiri terdapat dua buah, yaitu tugu asli dan duplikatnya. Duplikat tugu lima kali lebih besar dan terlihat dari jarak berpuluh-puluh meter di kejauhan. Sementara tugu asli berada di dalam tugu duplikatnya.

Tugu asli dibangun saat zaman kolonial Belanda yaitu tahun 1928 untuk menentukan titik ekuator. Karena masih menggunakan teknologi seadanya, tugu ini tidak berdiri tepat posisi 0 derajat. Tugu Khatulistiwa berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur. Sementara posisi 0 derajat 0 menit dan 0 detik terletak 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu. Di posisi tepat ini dibangun patokan baru yang bentuknya lebih kecil dari tugu.

Di sekitar patokan baru juga dibuat garis putih memanjang. Di atas garis ini, telur bisa tegak berdiri tanpa bantuan apa pun. Saat peringatan titik kulminasi, pengunjung berebut untuk membuktikan fenomena ini.

Faktanya, sebagian besar telur yang diletakkan di sepanjang garis tersebut memang bisa berdiri. Meski begitu, ada beberapa pengunjung yang sempat gagal mendirikan telur, alasannya karena kurang konsentrasi.

"Ayo Pak, konsentrasi Pak. Pelan-pelan," ujar pemandu acara mengiringi kegiatan pengunjung mendirikan telur, Sabtu (21/3/2015).

Menurut pantauan Kompas.com, ternyata tidak hanya di garis tersebut telur bisa berdiri tegak. Di dekat tugu asli pun, beberapa pengunjung nekat mencoba mendirikan telur dan berhasil. Namun, memang telur yang berdiri tidak sebanyak di garis putih tersebut.

Meriam Pengusir Kuntilanak

Para ahli sejarah mengemukakan bahwa saat membuka lahan tempat tinggal tahun 1771, Raja Pontianak Syarif Abdurrahman Alkadrie sempat diganggu oleh hantu kuntilanak. Untuk mengusirnya, Raja menyalakan meriam. Syarif yang kemudian diakui sebagai pendiri kota Pontianak, menembakkan meriam ke arah daratan.

Meriam yang digunakan disebut Meriam Karbit. Meriam ini terbuat dari kayu besar dengan diameter sekitar 50-100 sentimeter. Panjangnya mencapai 4-7 meter. Meriam ini diisi dengan air dan dimasukkan karbit sebagai mesiunya. Karbit yang berekasi dengan air akan menghasilkan gas yang mengakibatkan ledakan jika disulut dengan api.

Suara ledakannya menggelegar hingga mampu menggoyahkan bangunan sekitar. Saat perayaan titik kultimasi, meriam ini menyambut kedatangan para pengunjung. Bahkan dari kejauhan, bunyi meriam ini cukup membuat hati berdebar. Di jarak dekat, tidak jarang pengunjung yang terkaget-kaget dengan suara meriam.

Unique Village People with Dementia and Alzheimer's

Have you heard Dementia and Alzheimer's infection? The infection assaults the memory, considerations, and feelings. Patients with this sickness will be upset his memory so that makes it hard to think and feelings get to be flimsy. Experiencing difficulty conveying can likewise be experienced by patients with this illness. They would be hard to center and comprehend the circumstances encompassing environment. 

Truth be told, this sickness can likewise make an individual disregard their presence and don't have the foggiest idea about the way home. The social conditions that may meddle would make individuals get to be hard to carry on with a typical life. 

In the Netherlands, there is a town secured in Weesp City dedicated to individuals with dementia and Alzheimer's. Reporting from Boredpanda , Sunday (02/15/2015) Village De Hogeweyk give 23 homes, parks, restaurants, bars, theater, and a few stores for shopping. 

Unique Village People with Dementia and Alzheimer's

There additionally are 152 individuals with Dementia and Alzheimer's infection long. In this town Dementia and Alzheimer's sufferers can don't hesitate to live like ordinary individuals. They do an assortment of exercises, for example, strolls in the recreation center, shopping at the store, and hanging out with a gathering of other individuals. Nothing was a trouble and feel annoyed by the individuals with this ailment are only a percentage of the guardian that can help the patients to perform exercises. 

The spot was planned by the modeler in Molenaar & Bol & VanDillen with alluring adornment and appealing eyes. Inner part room is made ​​as appealing as would be prudent with the goal that the house is agreeable and not exhausting. Here are a few pictures of the calm town of De Hogeweyk with all its substa

Removing tradition Birds At Chinese New Year

In addition to angpao in celebration of the Chinese New Year or Lunar, there is another tradition that made the Chinese when the Chinese society, ie, removing the sparrows.

Typically, the Chinese community ahead of Chinese New Year celebrations visited the monastery or temple to pray. However, some of the traditions of the church did release a bunch of sparrows in the monastery courtyard.

Chinese New Year
Furthermore, the box was opened by one of the church until one by one the sparrows fly into space.

According Awai, one of the leaders in the Vihara Dharma Bhakti, remove sparrows does have a meaning and a hope.

"We are human beings who should be free of problems, so removing the bird signifies that we do not continue terbelengu," said Awai as one of the administrators.

However, Awai said sparrows actually release this tradition is not only done ahead of the Chinese New Year celebrations. According Awai, remove the Sparrows is also sometimes done in a typical day or under certain conditions.

"For example, if someone is having a particular problem, so he took off the sparrows that are not kept chained," he concluded.

Sail Tomini Held September 2015

After a long wait, finally Sail Tomini 2015 International event still held in September. The plan was held in Sulawesi region.

The inauguration was held Sail Tomini 2015 conveyed by Coordinating Minister of Human Development and Culture (Menko PMK) Puan Maharani while leading the Coordination Meeting (Rakor) ministerial level to discuss the preparation of Sail Tomini 2015 in the office of Ministry for PMK.

Coordination meeting attended by Coordinating Minister for maritime Indroyono Susilo, the minister Tejo Eddy, Minister of Tourism and Creative Economy Arief Yahya, and the Governor of Central Sulawesi Longki Djanggola discussing matters relating to the preparation of Sail Tomini 2015. Among the discussion of the logo, theme and schedule of administration.
sail tomini 2015

In his speech, the Coordinating Minister for PMK advised that the agenda of Sail 2015 Tomini not change because it is related to the direction of the wind that blows in the region.

"The highlight of today's Sail Tomini 2015 there should be no change and remains held on 19 September 2015," said the Minister of PMK, Puan Maharani, Wednesday (01/21/2015).

In connection with the logo which is used, Puan claimed should highlight the peculiarities of the region. "If for Sail Tomini I guess Yag more fitting is to use the logo Phinisi boats with colorful screen," he explained.

Selection of the logo, the Coordinating Minister for PMK further not just choose because phinisi boat is a traditional boat Sulawesi which has been acclaimed as one of Indonesia's cultural heritage.

On this occasion, the Coordinating Minister for PMK reiterated that the purpose of Sail Tomini 2015 is to accelerate the development of disadvantaged areas, suburban, and islands.

"Sail Tomini distinasi 2015 while promoting tourism in Central Sulawesi region to the international community, the goal is more important is to strengthen the glory of Indonesia as a maritime nation who live in island countries," he said.

Previously, this Sail program has been held for six consecutive times every year since 2009. Starting from the Sail Bunaken, Sail Banda, Sail Wakatobi, Belitong Sail, Sail Morotai, Sail Komodo, Raja Ampat and Sail.

Gamelan Mark Ritual Sekaten Surakarta

Sekaten activities Kraton Surakarta routinely held to commemorate the birth of the Prophet Muhammad could not be separated from the existence of gamelan.

Gamelan Kyai Guntur Madu and Gamelan Kyai Guntur Sari placed in the Grand Mosque after Asr sounded week and stopped before the maghrib.

One of the courtiers named Parmo (65) explained before in place in the Grand Mosque, the orchestra must be taken from the palace.

"Because of the orchestra is one of the heritage belonging to the Kraton of Solo," he said in Solo, Central Java.

Parmo reveal gemelan lifting devices is not easy. Must clean born and minds. Lifting gamelan troupe will use typical clothing palace courtiers.

Gamelan Mark Ritual Sekaten Surakarta

Although there is no specific rituals such should Poso (fasting) first. What is certain is required in order to clean the bath only when carrying the gamelan to the Grand Mosque.

Parmo admitted he did not feel heavy and weighed down when lifting device gamelan, because he did it with sincerity.

For Parmo said everything is done with a sincere heart, inner and outer ngawula intention, God willing smoothly.

"Ning yen 'ngesula' (complain) even when carrying heavy gamelan instruments will feel," he said.

Parmo already pulahan years of service so the Solo Palace courtiers. Since the time of PB XII still east (young). Even had since the days of his grandfather, his family devoted to the Palace.

Together with around 150 courtiers Parmo lifting devices and Gamelan Kyai Kyai Guntur Guntur Madu Sari to the Great Mosque which is not far from the Kraton of Solo.

Later Parmo prick up lampah (signpost) will go hand in hand to bring the gamelan then to be put in ward Great Mosque of Solo.

For Gamelan Kyai Guntur Madu device is placed in ward north Mosque Ageng. And the Gamelan Kyai Guntur Sari to the ward in the south.